Oleh : Nasiruddin Hidayah, S.HI*
Nama Lintang kiranya tidak asing dalam keseharian kita, bagi yang pernah baca buku atau nonton film “Laskar Pelangi” tentunya akan mudah untuk mempersonifikasikan seorang lintang itu, dia seorang anak yang hidupnya sebatang kara, sejak kecil ditinggal untuk selamanya oleh Ibunda tercintanya, dengan ketiadaan ibunya dia harus turut mengasuh adik-adiknya yang masih belia, juga ikut serta mengurus kebutuhan keluarganya, bahkan dia harus membantu ayahnya untuk mencari nafkah keluarga. Ditengah-tengah serba keterbatasan itu dia tidak putus harapan. Dia anak yang gigih, ulet, pantang menyerah. Dengan kegigihannya dia mampu mengukir prestasi yang gemilang di bangku Sekolah Dasarnya itu, keberadannya telah membuat harum nama sekolah itu.
Beberapa saat kemudian sekolahpun harus berduka-cita saat anak berlian itu harus berpamitan untuk tidak sekolah lagi, siapa sangka anak berlian itu harus putus sekolah sebelum menuntaskan sekolah dasarnya, yaitu saat sang ayah harus pergi menyusul sang Ibu ke alam berzah. Sekarang tinggalah Lintang bersama adik-adiknya tanpa kehadiran sosok ayah juga tanpa curahan kasih sayang sosok ibu, dia harus berfikir sendiri untuk melangsungkan kehidupan keluarganya. Dengan perginya sang ayah lengkaplah kiranya penderitaan seorang lintang dalam bertarung melawan hidup. Kondisi inilah yang memaksa Lintang untuk putus sekolah.
Pertanyaannya, Bagaimanakah seandainya kita yang menjadi Lintang? Apa yang akan kita perbuat? Kemanakah kita harus berlindung? Kepada siapakah kita harus menangis? Kiranya tidak ada satupun dari manusia yang memilih hidupnya demikian, tetapi apa boleh dibuat saat Allah telah menentukan demikian, Lintangpun tidak menghendaki demikian, dan bahkan kita semuanya. Tetapi dibalik semua itu pasti Allah mempunyai maksud tertentu untuk manusia. Kita tinggal mengambil pelajaran atau hikmah sehingga dalam menjalani hidup ini lebih arif dan bijaksana.
Kisah lintang itu hanya satu dari sekian juta Lintang yang senasip dengannya, yang harus putus sekolah demi menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga dari saudara-saudaranya, yang tidak tahu harus kemanakah nasib masa depannya, tidak tahu kemana harus memanggil ayah, kemana harus mendapatkan belaian kasih-sayang Ibu, dari manakah harus mendapatkan sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya?. Anak-anak yang diwakili Lintang itu termasuk didalamnya anak Bangsa ini, yang sebenarnya mempunyai banyak potensi dalam dirinya, juga mempunyai semangat untuk menuntut ilmu yang kemungkinan juga sebagai calon Habibie baru di masa yang akan datang, tetapi karana kondisi yang tidak memungkinkan untuk studi, jadilah ia sebagai ‘pengangguran dini’. Sekaligus menjadi pelengkap dan penyempurna permasalahan Bangsa ini.
Kita perlu membuka tirai jendela rumah kita, membuka jendela mobil kita, membuka helm tropong kita untuk sejenak melihat alam sekitarnya, melihat realitas sosial, bukankah di sana banyak yang menunggu uluran tangan kita?. Dipagi buta kita lihat anak-anak kecil berseragam sekolah seadanya, kusut, dan usang, sambil menangis menunggu sarapan paginya, menunggu uang sakunya, pada hal merakapun tidak tahu apakah akan ada sarapan pagi juga uang saku pada hari itu. Sedangkan putra-putri kita sudah siap berangkat ke sekolah, dengan sejumlah uang saku, dengan pakain yang mendereng, dengan anika perlengkapan untuk sekolah.
Tentu kita perlu mengasah kepekaan hati agar dapat mendengar rintihan perasaan Lintang, yang setiap saat merindukan senyuman kasih-sayang, sapaan persahabatan. Mungkin rintihan itu tidak sampai terbisik melalui lisannya, , tetapi dapat kita fahami dari tatapan yang penuh harap itu.
Tatapan mata yang sayu itu, selalu memanggil hati para dermawan untuk sekedar menyapa dengan panggilan kasih-sayangnya, atau hanya sekedar berbagi cerita indahnya. mereka membutuhkan sentuhan kasih-sayang, mereka haus akan sentuhan bathin, merindukan kehadiran sosok ayah juga kehadiran sosok Ibu yang bisa mewakili walaupun sekedar hanya dapat mendengarkan keluh-kesahnya.
Karena kebutuhan yang berlipat ganda itulah, Nabi memberikan posisi yang terhormat bagi siapa saja yang mau menyantuni atau memelihara anak yatim, yaitu sejajar dengan posisi Nabi di Surga kelak laksana jari tengah dengan jari telunjuk. Seperti dalam sabdanya, yang artinya “Saya bersama orang yang memelihara/menyantuni anak yatim berada dalam surga laksana ini (beliau memberikan isyarat dengan dua jarinya yaitu seperti jari tengah dan jari telunjuk)”
Bukan hanya mendapatkan penghargaan diakhirat kelak, tetapi begitu juga di dunia, yaitu bagi siapa yang hatinya dilanda oleh kegundahan, atau bagi orang yang merindukan ketenangan jiwanya, datangilah anak Yatim walaupun hanya sekedar mengusap kepalanya.
Dengan analogi sederhana, kalau hanya dengan mengusap kepalanya saja sudah dapat meluluhkan kekerasan hati, apalagi bisa berbagi yang lainnya sudah tentu akan mendapatkan yang lebih dari itu.
Kiranya cukup sindiran al-Qur’an kepada kita, dalam surat al-Maa’un 1-7, yang artinya Tahukah kamu ( orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan kepada orang miskin, maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai terhadap shalatnya, dan orang yang shalat dengan riya’ dan enggan (memberi) bantuan
Sindiran surat ini pula memperjelas bahwa sebagai bukti konkrit dari keberagamaan seseorang bukan semata-mata kepada berapa kalinya naik haji, atau seberapa banyak melakukan puasa? semua itu dipandang sebagai orang yang berdusta dalam beragama, atau keberagamaannya hanya sebatas pura-pura belaka manakala tidak memperdulikan nasib sesama, nasib anak yatim dan orang miskin. Sekalipun demikian bukan berarti menyepelekan ibadah ritual yang diwajibkan itu, melainkan hal ini hanya mempertegas perlunya ada keseimbangan dalam kehidupan agar tidak terjebak kepada sebutan ‘shalih pribadi’ tetapi tidak ‘shalih sosial’.
Sebagai satu gambaran, Fariduddin Al-Attar memberikan satu catatan dalam warisan Aualiya’ menulis, bahwasanya Abdullah bin Mubarok, seorang Sufi, dalam tidurnya bermimpi mendengar dua Malaikat berdialog tentang jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah haji di tanah suci. Abdullah terperanjat, ia bangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar karena diantara 600.000 orang yang naik haji tidak satupun ibadahnya diterima oleh Allah, pada hal Abdullah termasuk salah satu jamaah itu. Meskipun demikian menurut Malaikat, ada tukang sepatu di Damaskus yang tinggal dirumah tetapi hajinya diterima. Abdullah penasaran, lalu diam-diam ia menyelidiki ke Damaskus, tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa tetapi telah tiga puluh tahun menabung untuk naik haji, ketika tiba saat naik haji, ia menemukan seorang tetangganya yang tampak hidup nelongso, rupanya kehidupannya sangat memprihatinkan, mereka sudah tiga hari tidak dimasuki makanan. Ali kaget kemudian menyerahkan uang simpanannya yang dikumpulkan selama tiga puluh tahun untuk naik haji itu untuk keluarga itu.
Kepekaan terhadap kondisi sosial adalah bagian dari buah cara keberagamaan seseorang. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa agama Islam bukan hanya menitik beratkan hanya pada dimensi ibadah (Hablum Minallah) tetapi juga harus menyentuh dimensi mu’amalah (Hablum minannas), dengan demikian keberagamaan kita tidak dibenarkan manakala hanya mengutamakan satu dimensi dengan mengenyampingkan dimensi yang lainnya. Salah satu diantara fungsi diturunkannya agama adalah untuk kemaslahatan manusia, disaat agama hanya difahami pada dimensi Ibadah an sich maka agama akan terasa kering dan hampa, juga akan kehilangan relevansinya.
Pertanyaan yang pantas diajukan adalah islamkah kita bila dalam kehidupan sehari-hari kita rajin shalat, puasa, sementara membiarkan tetangga tidak bisa tidur karena kelaparan, dan kehujanan? Islamkah kita bila dalam berekonomi kita menuai hasil besar karena yang lebih kecil kita tindas? Islamkah kita bila kita sudah berhaji bahkan berkali-kali sementara kita menutup mata dengan anak tetangga yang putus sekolah karena kendala biaya?. Kita perlu mengakui bahwa sering sekali kita mengabaikan kewajiban agama yang esensial itu yang sekaligus menjadi tolak ukurnya.
penulis adalah Pembina di Panti Asuhan Nurul Abyadh
Jumat, 11 Desember 2009
SELAMATKAN LINTANG!
Mari Berqurban, Jangan Jadi Korban
Oleh: Tim Dakwah Panti Asuhan Nurul Abyadh
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walilahilhamdu. Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, Maha Dari pada keagungan yang diagung-agungkan manusia di muka bumi ini. Alhamdulillah, bahagia rasanya kita masih sempat menikmati karunia Allah, berupa hari Raya Idul Adha ini.
Idul Adha atau Idul Qurban, atau yang dinamakan juga adkhiyah-berasal dari kata Adkha yang berarti waktu Dhuha-adalah hari yang penuh hikmah bagi siapapun yang menyadari. Hari Qurban, hari keikhlasan, hari loyalitas hamba Allah yang beriman kepada Allah, dan hari kepasrahan diatas segalanya.
Kita tentunya patut bersyukur, apalagi bagi mereka yang berkesempatan pada bulan ini melaksanakan ibadah haji, puasa sunnah 10 hari permulaan bulan ini, puasa hari arafah,Tasu’a dan Asyura. Tak terkecuali, bagi mereka yang berniat menyembelih hewan qurban yang disyari’atkan sejak tahun ke-2 Hujriah.
Menyembelih hewan qurban. Banyak manfaatnya. Fungsi utamanya adalah sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Kaustar ayat 1-2: “sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikamat yang banyak. Maka dirikanlah Sholat karena Tuhanmu;dan berqurbanlah.” Dari segi ritual Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman: “daging-daging Unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,” disini disebutkan bagaimana ketakwaan seorang hamba bisa ditunjukkan dengan kemauan hamba itu untuk berqurban. Apalagi dari segi sosial, daging hewan qurban yang dibagikan kepada para Du’afa’, atau fakir miskin bisa memperkecil jurang pemisahan antara si kaya dan si miskin, dan terciptalah kebersamaan dan kebahagiaan dihari tersebut.
Menyembelih qurban merupakan sunnah Rasul yang amat besar pahalanya dan amat luas maknanya. Rasul SAW bersabda: “tidak ada sesuatu amalan anak Adam di hari Nahar (hari penyembelihan qurban) yang lebih disukai Allah, sealain dari menyembelih qurban.” Karena itulah agama kita mensyari’atkannya sebagai amanah sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi yang mampu berqurban namun tidak melaksanakannya, dalam kitab sunnah Ibnu Majah, Rasululah SAW menyatakan:”barang siapa yang mempunyai keluasan untuk berqurban, kemudian Ia tidak berqurban,maka janganlah Ia mendekati tempat sembahyang kami.” Rasululah SAW juga bersabda dalam salah satu Hadistnya yang menerangkan apabila dalam, satu rumah tangga tidak seorangpun yang berqurban, karena sayang dan takut terkurangi hartanya, maka kata beliau tercelalah seisi rumah itu.
Tak mudah memang dan bukan sembarang orang yang sanggup mengeluarkan hartanya untuk kepentingan orang lain, atau untuk berqurban. Hal ini cukup beralasan. Bagaimana mungkin harta yang sekian lama kita kumpulkan, dicari dengan sekuat tenaga, dikeluarkan dengan mudahnya untuk keperluan orang lain, apalagi yang mungkin tidak ada hubungan darah denagn kita? Dan ini adalah watak dasar setiap dari kita; mencintai setiap hal yang berbau dunia dan takut akan kekurangannya, sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Imron ayat 14: “ dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis Emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ini, dan sisi Allah-Lah tempat kembali yang baik (surga).”ditambahkan dalam surat Al-Baqara 155: dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Namun, hendaknya kesenangan, kecintaan, kegandrungan dan ketakutan tersebut tidak melainkan kita untuk beribadah kepada Allah. Melalui firman-Nya dalam surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan:”hai oranng-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
Kita, sebagai hamba yang ingin menunjukkan keimanan dan ketaqwaan pada pencipta kita, tentunya tidak ingin menjadi kaum yang merugi, menjadi budak, hamba atau bahkan korban dari krhidupan dunia kita, seperti halnya kaum Mutrafin.
Ibnu katsir dalam tafsirnya IV: 294, menerangkan bahwa Mutrafin adalah mereka yang hidup mewah, yang perhatiannya hanya tertuju pada kegemerlapan harta, benda dan kecintaan pada kehidupan duniawi, dan untuk kepentinngan dirinya sendiri. Syeikh Muhammad Abduh, pemikir Islam, juga menyatakan pandangannya bahwa kaum mutrafin adalah mereka yang dikarenakan mendapat nikmat kesenangan lalu melaksanakan kemaksiatan dan kedurhakaan di hadapan Allah. (Tafsir Al Mannar oleh Rosyid Ridha).
Intinya, kaum mutrafin adalah para korban harta, dan perhiasan dunia. Mereka adalah manusia yang Ulin ni’mah, yang pada prinsipnya selalu ingin mengejar dan meraih keuntungan duniawi, mewah dengan rumah dan harta benda, serta mabuk dengan kesenangan,kemajuan ilmu pengetahuan, politik, model, dan mode. Kaum mutrafin, jauh dari agamanya, jauh dari amal dan shodaqoh, jauh dari kasih sayang kepada yatim piatu dan fakir miskin. Na’udzubillah.
Sekali lagi, memang tidaklah mudah untuk menafkahkan harta kita di jalan Allah. Dan justru ada rasa berat, eman, itulah nilai perjuangan dan penghambaan kepada Allah terletak sebagai salah satu bentuk ujian dalam beribadah. Surat Al-Imran 142: menyebutkan “apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang “berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sejalan dengan itu, surat Al-Ankabut ayat 2 Allah berfirman: “apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?
Nah para pembaca ynag budiman . islam tidaklah mengingkari bahwa masing-masing dari kita mempunyai rasa kesenangan terhadap harta duniawi, dan justru Islam mengarahkan bagaimana rasa senang ini tidak melalaikan kita dan malahan bisa diolah untuk mendekatkan diri kepada Yang Menitipkan harta itu kepada kita.
Kita yakin tak seorangpun dari kita yang ingin menjadi orang yang merugi seperti yang diterangkan dalam surat Al-Munafiqun ayat 9 diatas. Karena itulah, Allah melanjutkannya dalam ayat ke kesepuluh: “dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata: ‘ya Rabb-ku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang memyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh?” karena itulah, kaum muslimin yang budiman, selagi kita masih dikaruniakan umur, dan harta yang berlebih, marilah kita gunakan untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah. Dan tentunya kita takut termasuk golongan manusia yang disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 50-51: “dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:” limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu. ” Mereka (penghuni surga) menjawab:”sesungguhnya Allah telah mengharapkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami. Wallahu A’lam bish-showaab.
Islam Dan Pendidikan Anak
By ide – Posted on 25 June 2004
Sabda Rasul SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.(HR. Bukhari).
Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul “agenda persoalan” baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya.
Dr. Abdullah Nashih ‘ulwan, dalam bukunya „Tarbiyatul Aulad” menegaskan, hanya ada satu cara agar anak menjadi permata hati dambaan setiap orangtua, yaitu melalui pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Islam.
Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya.
Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.
Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.
Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad).
Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.
Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.
Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.
Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaiman sabda Rasul SAW:
„Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (Hr.Bukhari).
Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:
Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.
Sebelum mentransfer nilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain.
Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai dengan ajaran yang diberikan pada anak.
Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.
Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya:
“Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.



