Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 11 Desember 2009

SELAMATKAN LINTANG!

Oleh : Nasiruddin Hidayah, S.HI*

Nama Lintang kiranya tidak asing dalam keseharian kita, bagi yang pernah baca buku atau nonton film “Laskar Pelangi” tentunya akan mudah untuk mempersonifikasikan seorang lintang itu, dia seorang anak yang hidupnya sebatang kara, sejak kecil ditinggal untuk selamanya oleh Ibunda tercintanya, dengan ketiadaan ibunya dia harus turut mengasuh adik-adiknya yang masih belia, juga ikut serta mengurus kebutuhan keluarganya, bahkan dia harus membantu ayahnya untuk mencari nafkah keluarga. Ditengah-tengah serba keterbatasan itu dia tidak putus harapan. Dia anak yang gigih, ulet, pantang menyerah. Dengan kegigihannya dia mampu mengukir prestasi yang gemilang di bangku Sekolah Dasarnya itu, keberadannya telah membuat harum nama sekolah itu.
Beberapa saat kemudian sekolahpun harus berduka-cita saat anak berlian itu harus berpamitan untuk tidak sekolah lagi, siapa sangka anak berlian itu harus putus sekolah sebelum menuntaskan sekolah dasarnya, yaitu saat sang ayah harus pergi menyusul sang Ibu ke alam berzah. Sekarang tinggalah Lintang bersama adik-adiknya tanpa kehadiran sosok ayah juga tanpa curahan kasih sayang sosok ibu, dia harus berfikir sendiri untuk melangsungkan kehidupan keluarganya. Dengan perginya sang ayah lengkaplah kiranya penderitaan seorang lintang dalam bertarung melawan hidup. Kondisi inilah yang memaksa Lintang untuk putus sekolah.
Pertanyaannya, Bagaimanakah seandainya kita yang menjadi Lintang? Apa yang akan kita perbuat? Kemanakah kita harus berlindung? Kepada siapakah kita harus menangis? Kiranya tidak ada satupun dari manusia yang memilih hidupnya demikian, tetapi apa boleh dibuat saat Allah telah menentukan demikian, Lintangpun tidak menghendaki demikian, dan bahkan kita semuanya. Tetapi dibalik semua itu pasti Allah mempunyai maksud tertentu untuk manusia. Kita tinggal mengambil pelajaran atau hikmah sehingga dalam menjalani hidup ini lebih arif dan bijaksana.
Kisah lintang itu hanya satu dari sekian juta Lintang yang senasip dengannya, yang harus putus sekolah demi menjalankan tugasnya sebagai kepala keluarga dari saudara-saudaranya, yang tidak tahu harus kemanakah nasib masa depannya, tidak tahu kemana harus memanggil ayah, kemana harus mendapatkan belaian kasih-sayang Ibu, dari manakah harus mendapatkan sesuap nasi untuk mempertahankan hidupnya?. Anak-anak yang diwakili Lintang itu termasuk didalamnya anak Bangsa ini, yang sebenarnya mempunyai banyak potensi dalam dirinya, juga mempunyai semangat untuk menuntut ilmu yang kemungkinan juga sebagai calon Habibie baru di masa yang akan datang, tetapi karana kondisi yang tidak memungkinkan untuk studi, jadilah ia sebagai ‘pengangguran dini’. Sekaligus menjadi pelengkap dan penyempurna permasalahan Bangsa ini.
Kita perlu membuka tirai jendela rumah kita, membuka jendela mobil kita, membuka helm tropong kita untuk sejenak melihat alam sekitarnya, melihat realitas sosial, bukankah di sana banyak yang menunggu uluran tangan kita?. Dipagi buta kita lihat anak-anak kecil berseragam sekolah seadanya, kusut, dan usang, sambil menangis menunggu sarapan paginya, menunggu uang sakunya, pada hal merakapun tidak tahu apakah akan ada sarapan pagi juga uang saku pada hari itu. Sedangkan putra-putri kita sudah siap berangkat ke sekolah, dengan sejumlah uang saku, dengan pakain yang mendereng, dengan anika perlengkapan untuk sekolah.
Tentu kita perlu mengasah kepekaan hati agar dapat mendengar rintihan perasaan Lintang, yang setiap saat merindukan senyuman kasih-sayang, sapaan persahabatan. Mungkin rintihan itu tidak sampai terbisik melalui lisannya, , tetapi dapat kita fahami dari tatapan yang penuh harap itu.
Tatapan mata yang sayu itu, selalu memanggil hati para dermawan untuk sekedar menyapa dengan panggilan kasih-sayangnya, atau hanya sekedar berbagi cerita indahnya. mereka membutuhkan sentuhan kasih-sayang, mereka haus akan sentuhan bathin, merindukan kehadiran sosok ayah juga kehadiran sosok Ibu yang bisa mewakili walaupun sekedar hanya dapat mendengarkan keluh-kesahnya.
Karena kebutuhan yang berlipat ganda itulah, Nabi memberikan posisi yang terhormat bagi siapa saja yang mau menyantuni atau memelihara anak yatim, yaitu sejajar dengan posisi Nabi di Surga kelak laksana jari tengah dengan jari telunjuk. Seperti dalam sabdanya, yang artinya “Saya bersama orang yang memelihara/menyantuni anak yatim berada dalam surga laksana ini (beliau memberikan isyarat dengan dua jarinya yaitu seperti jari tengah dan jari telunjuk)”
Bukan hanya mendapatkan penghargaan diakhirat kelak, tetapi begitu juga di dunia, yaitu bagi siapa yang hatinya dilanda oleh kegundahan, atau bagi orang yang merindukan ketenangan jiwanya, datangilah anak Yatim walaupun hanya sekedar mengusap kepalanya.
Dengan analogi sederhana, kalau hanya dengan mengusap kepalanya saja sudah dapat meluluhkan kekerasan hati, apalagi bisa berbagi yang lainnya sudah tentu akan mendapatkan yang lebih dari itu.
Kiranya cukup sindiran al-Qur’an kepada kita, dalam surat al-Maa’un 1-7, yang artinya Tahukah kamu ( orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan kepada orang miskin, maka celakalah orang yang shalat, yaitu orang yang lalai terhadap shalatnya, dan orang yang shalat dengan riya’ dan enggan (memberi) bantuan
Sindiran surat ini pula memperjelas bahwa sebagai bukti konkrit dari keberagamaan seseorang bukan semata-mata kepada berapa kalinya naik haji, atau seberapa banyak melakukan puasa? semua itu dipandang sebagai orang yang berdusta dalam beragama, atau keberagamaannya hanya sebatas pura-pura belaka manakala tidak memperdulikan nasib sesama, nasib anak yatim dan orang miskin. Sekalipun demikian bukan berarti menyepelekan ibadah ritual yang diwajibkan itu, melainkan hal ini hanya mempertegas perlunya ada keseimbangan dalam kehidupan agar tidak terjebak kepada sebutan ‘shalih pribadi’ tetapi tidak ‘shalih sosial’.
Sebagai satu gambaran, Fariduddin Al-Attar memberikan satu catatan dalam warisan Aualiya’ menulis, bahwasanya Abdullah bin Mubarok, seorang Sufi, dalam tidurnya bermimpi mendengar dua Malaikat berdialog tentang jamaah haji yang baru saja menunaikan ibadah haji di tanah suci. Abdullah terperanjat, ia bangun dari tidurnya dengan tubuh gemetar karena diantara 600.000 orang yang naik haji tidak satupun ibadahnya diterima oleh Allah, pada hal Abdullah termasuk salah satu jamaah itu. Meskipun demikian menurut Malaikat, ada tukang sepatu di Damaskus yang tinggal dirumah tetapi hajinya diterima. Abdullah penasaran, lalu diam-diam ia menyelidiki ke Damaskus, tukang sepatu itu ternyata Ali bin Muwaffak, orang biasa tetapi telah tiga puluh tahun menabung untuk naik haji, ketika tiba saat naik haji, ia menemukan seorang tetangganya yang tampak hidup nelongso, rupanya kehidupannya sangat memprihatinkan, mereka sudah tiga hari tidak dimasuki makanan. Ali kaget kemudian menyerahkan uang simpanannya yang dikumpulkan selama tiga puluh tahun untuk naik haji itu untuk keluarga itu.
Kepekaan terhadap kondisi sosial adalah bagian dari buah cara keberagamaan seseorang. Sudah menjadi pemahaman umum bahwa agama Islam bukan hanya menitik beratkan hanya pada dimensi ibadah (Hablum Minallah) tetapi juga harus menyentuh dimensi mu’amalah (Hablum minannas), dengan demikian keberagamaan kita tidak dibenarkan manakala hanya mengutamakan satu dimensi dengan mengenyampingkan dimensi yang lainnya. Salah satu diantara fungsi diturunkannya agama adalah untuk kemaslahatan manusia, disaat agama hanya difahami pada dimensi Ibadah an sich maka agama akan terasa kering dan hampa, juga akan kehilangan relevansinya.
Pertanyaan yang pantas diajukan adalah islamkah kita bila dalam kehidupan sehari-hari kita rajin shalat, puasa, sementara membiarkan tetangga tidak bisa tidur karena kelaparan, dan kehujanan? Islamkah kita bila dalam berekonomi kita menuai hasil besar karena yang lebih kecil kita tindas? Islamkah kita bila kita sudah berhaji bahkan berkali-kali sementara kita menutup mata dengan anak tetangga yang putus sekolah karena kendala biaya?. Kita perlu mengakui bahwa sering sekali kita mengabaikan kewajiban agama yang esensial itu yang sekaligus menjadi tolak ukurnya.

 penulis adalah Pembina di Panti Asuhan Nurul Abyadh

Mari Berqurban, Jangan Jadi Korban

Oleh: Tim Dakwah Panti Asuhan Nurul Abyadh
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walilahilhamdu. Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, Maha Dari pada keagungan yang diagung-agungkan manusia di muka bumi ini. Alhamdulillah, bahagia rasanya kita masih sempat menikmati karunia Allah, berupa hari Raya Idul Adha ini.
Idul Adha atau Idul Qurban, atau yang dinamakan juga adkhiyah-berasal dari kata Adkha yang berarti waktu Dhuha-adalah hari yang penuh hikmah bagi siapapun yang menyadari. Hari Qurban, hari keikhlasan, hari loyalitas hamba Allah yang beriman kepada Allah, dan hari kepasrahan diatas segalanya.
Kita tentunya patut bersyukur, apalagi bagi mereka yang berkesempatan pada bulan ini melaksanakan ibadah haji, puasa sunnah 10 hari permulaan bulan ini, puasa hari arafah,Tasu’a dan Asyura. Tak terkecuali, bagi mereka yang berniat menyembelih hewan qurban yang disyari’atkan sejak tahun ke-2 Hujriah.
Menyembelih hewan qurban. Banyak manfaatnya. Fungsi utamanya adalah sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Kaustar ayat 1-2: “sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikamat yang banyak. Maka dirikanlah Sholat karena Tuhanmu;dan berqurbanlah.” Dari segi ritual Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman: “daging-daging Unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,” disini disebutkan bagaimana ketakwaan seorang hamba bisa ditunjukkan dengan kemauan hamba itu untuk berqurban. Apalagi dari segi sosial, daging hewan qurban yang dibagikan kepada para Du’afa’, atau fakir miskin bisa memperkecil jurang pemisahan antara si kaya dan si miskin, dan terciptalah kebersamaan dan kebahagiaan dihari tersebut.
Menyembelih qurban merupakan sunnah Rasul yang amat besar pahalanya dan amat luas maknanya. Rasul SAW bersabda: “tidak ada sesuatu amalan anak Adam di hari Nahar (hari penyembelihan qurban) yang lebih disukai Allah, sealain dari menyembelih qurban.” Karena itulah agama kita mensyari’atkannya sebagai amanah sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi yang mampu berqurban namun tidak melaksanakannya, dalam kitab sunnah Ibnu Majah, Rasululah SAW menyatakan:”barang siapa yang mempunyai keluasan untuk berqurban, kemudian Ia tidak berqurban,maka janganlah Ia mendekati tempat sembahyang kami.” Rasululah SAW juga bersabda dalam salah satu Hadistnya yang menerangkan apabila dalam, satu rumah tangga tidak seorangpun yang berqurban, karena sayang dan takut terkurangi hartanya, maka kata beliau tercelalah seisi rumah itu.
Tak mudah memang dan bukan sembarang orang yang sanggup mengeluarkan hartanya untuk kepentingan orang lain, atau untuk berqurban. Hal ini cukup beralasan. Bagaimana mungkin harta yang sekian lama kita kumpulkan, dicari dengan sekuat tenaga, dikeluarkan dengan mudahnya untuk keperluan orang lain, apalagi yang mungkin tidak ada hubungan darah denagn kita? Dan ini adalah watak dasar setiap dari kita; mencintai setiap hal yang berbau dunia dan takut akan kekurangannya, sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Imron ayat 14: “ dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis Emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ini, dan sisi Allah-Lah tempat kembali yang baik (surga).”ditambahkan dalam surat Al-Baqara 155: dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Namun, hendaknya kesenangan, kecintaan, kegandrungan dan ketakutan tersebut tidak melainkan kita untuk beribadah kepada Allah. Melalui firman-Nya dalam surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan:”hai oranng-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
Kita, sebagai hamba yang ingin menunjukkan keimanan dan ketaqwaan pada pencipta kita, tentunya tidak ingin menjadi kaum yang merugi, menjadi budak, hamba atau bahkan korban dari krhidupan dunia kita, seperti halnya kaum Mutrafin.
Ibnu katsir dalam tafsirnya IV: 294, menerangkan bahwa Mutrafin adalah mereka yang hidup mewah, yang perhatiannya hanya tertuju pada kegemerlapan harta, benda dan kecintaan pada kehidupan duniawi, dan untuk kepentinngan dirinya sendiri. Syeikh Muhammad Abduh, pemikir Islam, juga menyatakan pandangannya bahwa kaum mutrafin adalah mereka yang dikarenakan mendapat nikmat kesenangan lalu melaksanakan kemaksiatan dan kedurhakaan di hadapan Allah. (Tafsir Al Mannar oleh Rosyid Ridha).
Intinya, kaum mutrafin adalah para korban harta, dan perhiasan dunia. Mereka adalah manusia yang Ulin ni’mah, yang pada prinsipnya selalu ingin mengejar dan meraih keuntungan duniawi, mewah dengan rumah dan harta benda, serta mabuk dengan kesenangan,kemajuan ilmu pengetahuan, politik, model, dan mode. Kaum mutrafin, jauh dari agamanya, jauh dari amal dan shodaqoh, jauh dari kasih sayang kepada yatim piatu dan fakir miskin. Na’udzubillah.
Sekali lagi, memang tidaklah mudah untuk menafkahkan harta kita di jalan Allah. Dan justru ada rasa berat, eman, itulah nilai perjuangan dan penghambaan kepada Allah terletak sebagai salah satu bentuk ujian dalam beribadah. Surat Al-Imran 142: menyebutkan “apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang “berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sejalan dengan itu, surat Al-Ankabut ayat 2 Allah berfirman: “apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?
Nah para pembaca ynag budiman . islam tidaklah mengingkari bahwa masing-masing dari kita mempunyai rasa kesenangan terhadap harta duniawi, dan justru Islam mengarahkan bagaimana rasa senang ini tidak melalaikan kita dan malahan bisa diolah untuk mendekatkan diri kepada Yang Menitipkan harta itu kepada kita.
Kita yakin tak seorangpun dari kita yang ingin menjadi orang yang merugi seperti yang diterangkan dalam surat Al-Munafiqun ayat 9 diatas. Karena itulah, Allah melanjutkannya dalam ayat ke kesepuluh: “dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata: ‘ya Rabb-ku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang memyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh?” karena itulah, kaum muslimin yang budiman, selagi kita masih dikaruniakan umur, dan harta yang berlebih, marilah kita gunakan untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah. Dan tentunya kita takut termasuk golongan manusia yang disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 50-51: “dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:” limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu. ” Mereka (penghuni surga) menjawab:”sesungguhnya Allah telah mengharapkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami. Wallahu A’lam bish-showaab.

Islam Dan Pendidikan Anak

By ide – Posted on 25 June 2004

Sabda Rasul SAW: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.(HR. Bukhari).

Anak adalah karunia Allah yang tidak dapat dinilai dengan apapun. Ia menjadi tempat curahan kasih sayang orang tua. Namun sejalan dengan bertambahnya usia sang anak, muncul “agenda persoalan” baru yang tiada kunjung habisnya. Ketika beranjak dewasa anak dapat menampakkan wajah manis dan santun, penuh berbakti kepada orang tua, berprestasi di sekolah, bergaul dengan baik dengan lingkungan masyarakatnya, tapi di lain pihak dapat pula sebaliknya. Perilakunya semakin tidak terkendali, bentuk kenakalan berubah menjadi kejahatan, dan orangtua pun selalu cemas memikirkanya.

Dr. Abdullah Nashih ‘ulwan, dalam bukunya „Tarbiyatul Aulad” menegaskan, hanya ada satu cara agar anak menjadi permata hati dambaan setiap orangtua, yaitu melalui pendidikan yang bersumber dari nilai-nilai Islam.

Islam telah memberikan dasar-dasar konsep pendidikan dan pembinaan anak, bahkan sejak masih dalam kandungan . Jika anak sejak dini telah mendapatkan pendidikan Islam, Insya allah ia akan tumbuh menjadi insan yang mencintai Allah dan Rasul-nya serta berbakti kepada orengtuanya.

Upaya dalam mendidik anak dalam naungan Islam sering mengalami kendala. Perlu disadari disini, betapa pun beratnya kendala ini, hendaknya orangtua bersabar dan menjadikan kendala-kendala tersebut sebagai tantangan dan ujian.

Dalam mendidik anak setidaknya ada dua macam tantangan, yang satu bersifat internal dan yang satu lagi bersifat eksternal. Kedua tantangan ini sangat mempengaruhi perkembangan anak.

Sumber tantangan internal yang utama adalah orangtua itu sendiri. Ketidakcakapan orangtua dalam mendidik anak atau ketidak harmonisan rumah tangga. Sunatullah telah menggariskan, bahwa pengembangan kepribadian anak haruslah berimbang antara fikriyah (pikiran), ruhiyah (ruh), dan jasadiyahnya (jasad).

Tantangan eksternal pun juga sangat berpengaruh dan lebih luas lagi cakupannya. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan rumah. Informasi yang yang didapat melalui interaksi dengan teman bermain dan kawan sebayanya sedikit banyak akan terekam. Lingkungan yang tidak islami dapat melunturkan nilai-nilai islami yang telah ditanamkan di rumah.

Yang berikutnya adalah lingkungan sekolah. Bagaimanapun juga guru-guru sekolah tidak mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-teman sekolahnya apabila tidak dipantau dari rumah bisa berdampak negatif. Sehingga memilihkan sekolah yang tepat untuk anak sangatlah penting demi terjaganya akhlak sang anak. Anak-anak Muslim yang disekolahkan di tempat yang tidak islami akan mudah tercemar oleh pola fikir dan akhlak yang tidak islami sesuai dengan pola pendidikannya, apalagi mereka yang disekolahkan di sekolah nasrani sedikit demi sedikit akhlak dan aqidah anak-anak Muslim akan terkikis dan goyah. Sehingga terbentuklah pribadi-pribadi yang tidak menganal islam secara utuh.

Disamping itu peranan media massa sangat pula berpengaruh. Informasi yang disebarluaskan media massa baik cetak maupun elektronik memiliki daya tarik yang sangat kuat. Jika orang tua tidak mengarahkan dan mengawasi dengan baik, maka si anak akan menyerap semua informasi yang ia dapat, tidak hanya yang baik bahkan yang merusak akhlak.

Meskipun banyak faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan seorang anak, orang tua tetap memegang peranan yang amat dominan, sebagaiman sabda Rasul SAW:

„Setiap anak dilahirkan dalm keadaan fitrah. Kedua orang tuanya lah yang menjadikannya nasrani, yahudi atau majusi.” (Hr.Bukhari).

Dalam mendidik anak orang tua hendaknya berperan sesuai dengan fungsinya. Masing-masing saling mendukung dan membantu. Bila salah satu fungsi rusak, anak akan kehilangan identitas. Pembagian tugas dalam Islam sudah jelas, peran ayah tidak diabaikan, tapi peran ibu menjadi hal sangat penting dan menentukan.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh para orangtua Muslim dalam mendidik anak:

Orang tua perlu memahami apa yang dimaksud dengan pendidikan anak dan tujuannya.
Banyak menggali informasi tentang pendidikan anak.
Memahami kiat mendidik anak secara praktis. Dengan demikian setiap gejala dalam tahap-tahap pertumbuhan anak dapat ditanggapi dengan cepat.

Sebelum mentransfer nilai, kedua orang tua harus melaksanakan lebih dulu dalam kehidupan sehari-hari. Karena di usia kecil, anak-anak cerdas cenderung meniru dan merekam segala perbuatan orang terdekat. Bersegera mengajarkan dan memotivasi anak untuk menghafal Al-Quran. Kegunaannya di samping sejak dini mengenalkan Yang Maha Kuasa pada anak, juga untuk mendasari jiwa dan akalnya sebelum mengenal pengetahuan yang lain.
Menjaga lingkungan si anak, harus menciptakan lingkungan yang sesuai dengan ajaran yang diberikan pada anak.

Memang usaha mendidik anak tidaklah semudah membalik tangan. Perlu kesabaran dan kreativitas yang tinggi dari pihak orang tua.

Simaklah perkataan Sayyid Qutb, yang mempunyai ayah sebagai panutannya:
“Semasa kecilku, ayah tanamkan ketaqwaan kepada Allah dan rasa takut akan hari akhirat. Engkau tak pernah memarahiku, namun kehidupan sehari-harimu telah menjadi teladanku, bagaimana prilaku orang yang ingat akan hari akhir.

Kamis, 10 Desember 2009

Sabar yang Benar dan “Sabar” yang Salah

Di dalam al-Qur’an sering sekali Allah menyebut kalimat sabar ini dalam berbagai shighat dan ungkapan. Tidak kurang dari 29 kali Allah menyebut kata sabar ini dalam bentuk kalimat perintah, baik yang ditujukan kepada para Nabi terdahulu dan umatnya, maupun kepada Rasulullah SAW secara pribadi beserta seluruh umatnya. Banyak pula Allah menyebut keutamaannya dan keunggulan orang-orang yang sabar, serta menjanjikan berbagai balasan baik kepada mereka. Bahkan sering pula Allah menjadikan kesabaran sebagaii syarat diberikannya hidayah, pertolongan, rahmat, serta keselamatan.
Sering kali orang memaknai kata sabar ini dengan pengertian yang terbatas, sehingga melahirkan konotasi yang pasif dan statis, padahal makna yang sebenarnya tidaklah demikian. Sabar bukan berarti diam menunggu datangnya pertolongan, apalagi pasrah dan menyerah pada nasib, serta terkurung dalam keputusasaan. Sebaliknya, sabar justru mengisyaratkan adanya ketegaran dan ketangguhan dalam menghadapii hempasan gelombang dan badai kehidupan, sabar juga mengajarkan ketekunan dan keuletan sehingga memunculkan gagasan kreatif dan ide-ide cemerlang dalam mengatasi berbagai kesulitan dan problema hidup.
Para ulama’ tasawuf mendefinisikan sabar dengan pengertian adanya “ketahanan jiwa” seseorang dalam mengendalikan dorongan hawa nafsu yang seringkali diperkuat oleh tipu daya syetan untuk melakukan penyimpangan dari jalan ALLAH. Apalagi ditambah dengan pengaruh lingkungan pergaulan yang selalu menghadirkan beragam persoalan dan sering pula diwarnai dengan guncangan-guncangan.
Berdasarkan pengertian terakhir ini, maka sabar berarti ketabahan untuk selalu berpegang teguh pada ajaran ALLAH, meskipun harus menghadapi beratnya godaan dan rintangan. Orang yang sabar tidak akan pernah kehilangan pegangan dan selalu dapat mengendalikan diri ke arah jalan ALLAH, bagaimanapun beratnya tekanan dan beban kehidupan. Dengan demikian maka hakikat kesabaran itu mengandung makna ketangguhan, ketabahan, ketekunan, istiqomah, kreatif, dan bahkan inovatif.
Kalau kita lihat dalam al-Qur’an, maka pengertian sabar seperti disampaikan tadi sangat bersesuaian dengan firman Allah, surat Ali ‘Imran ayat 146: “Maka mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan mereka juga tidak menjadi lesu (patah semangat) serta tidak menyerah (kepada musuh), dan Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar.”
Di dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar yang dicintai oleh Allah adalah mereka yang tidak lemah dalam menghadapi kesulitan,tidak mudah patah semangat dalam berjuang, dan tidak pernah menyerah pada lawan dalam membela agama Allah. Keseluruhan sifat yang disebut di dalam ayat ini mencerminkan pribadi yang kokoh, ulet dan selalu optimis dalam menghadapi segala rintangan.
Pemahaman dan penghayatan makna sabar seperti dikemukakan tadi patut kita kembangkan secara terus menerus dan kita aktualkan dalam sikap hidup keseharian, karena saat ini banyak sekali orang yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi berbagai guncangan, baik guncangan politik, guncangan ekonomi, maupun guncangan budaya.
Banyak orang kehilangan kendali diri ketika memasuki wilayah politik sehingga begitu mudah melakukan kebohongan, kecurangan, pengkhianatan, membuat janji palsu, bahkan memanipulasi dalil-dalil agama hanya untuk meraih target-target politik mereka. Banyak pula orang yang mencampakkan aturan dan hukum-hukum ALLAH ketika mengalami guncangan ekonomi atau terbius oleh keserakahan duniawi, sehingga mereka memilih jalan pintas dengan melakukan penipuan, berjudi, korupsi, serta berbagai bentuk transaksi haram lainnya.
Demikian pula guncangan budaya yang membuat banyak orang kehilangan identitas dan citra dirinya, serta meninggalkan budaya Islami yang luhur. Mereka begitu mudah larut dan terhanyut dalam budaya sekuler yang memporak-porandakan moral, baik dalam pola berpakaian, gaya bicara, tata pergaulan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Di dalam surat al-Ma’aarij ayat 5, Allah memerintahkan kepada kita agar bersabar dengan kesabaran yang baik, “Maka bersabarlah kamu dengan yang baik.”
Syekh Hunain M. Makhluf dalam kitabnya “Kalimaat al-Qur’an, Tafsir Wa Bayaan” memaknai kalimat “Shabran Jamiilan” ini dengan arti kesabaran yang tidak disertai keluh kesah kepada siapapun selain hanya kepada Allah saja. Kesabaran semacam inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ya’qub as. Ketika dua kali beliau kehilangan dua putera kesayangannya, sehingga di dalam surat Yusuf dua kali beliau menyebut kalimat Fashabrun Jamiil. Hal ini berarti bahwa sabar itu tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun kepada siapapun, yang mencerminkan adanya jiwa yang tegar serta mental yang tangguh.
Membangun jiwa yang kuat dan mental yang tangguh juga diperintahkan oleh Allah, karena Allah sangat Menyukai umat yang kuat. Untuk itu, Allah Mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi enerusnya dalam kondisi yang lemah. Hal ini tersirat dalam surat an-Nisaa’ ayat 9, “Dan hendaklah mereka takut (kepada Allah) kalau meninggalkan anak-anak (keturunan) yang lemah, yang mereka khawatirkan kesejahteraannya, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar.”
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas menyatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang meninggal, apabila mereka membuat wasiat, hendaknya selalu memperhatikan kesejahteraan ahli warisnya. Jangan sampai wasiat itu melalaikan ahli warisnya sendiri, sehingga mereka tidak memperoleh bagian harta waris yang memadai, akhirnya mereka menjadi miskin dan lemah.
Namun apabila dicermati lebih mendalam, maka didalam ayat ini juga terdapat peringatan agar setiap manusia mempersiapkan serta mengkondisikan jiwa yang kuat dan mental yang tangguh pada anak cucu keturunan mereka. Hal itu dapat dilakukan utamanya dengan memberikan pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan yang baik untuk perkembangan fisik maupun mental, memberikan asupan makanan yang sehat dan halal, termasuk dengan meninggalkan harta waris yang cukup.
Allah swt Menjadikan sikap sabar ini sebagai ukuran utama untuk menilai kualitas iman seseorang. Bahkan dalam sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa: sabar itu merupakan separuh dari kesempurnaan iman, as-shabru Nishfu al-Iman. Oleh karena itulah, ALLAH selalu Memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya untuk menilai kualitas iman yang terungkap dalam tingkat kesabaran mereka.
Dan dalam al-Qur’an beberapa kali Allah Menyatakan bahwa Dia pasti akan menguji setiap hamba-Nya, salah satunya terdapat pada surat Muhammad ayat 31, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kalian sehingga kami mengetahui orang yang sungguh-sungguh berjuang dan bersabar diantara kalian, dan kami mengetahui kenyataan sikap kalian.”
Ujian yang ditimpakan oleh Allah ada kalanya berupa kebaikan (hal yang menyenangkan) dan ada kalanya yang berupa penderitaan (hal yang menyusahkan). Hal ini diterangkan dalam surat al-A’raaf ayat 168, “Dan kami telah menguji mereka dengan kebaikan (kenikmatan) dan kejelekan (bencana) agar mereka mau kembali (ke jalan yang benar).”
Juga pada surat al-Anbiyaa’ ayat 35, “Dan kami akan menguji kaliandengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada kamilah kalian semua akan dikembalikan.”
Dengan demikian, segala hal yang dialami dalam hidup manusia ini pada hakiktnya adalah ujian dari ALLAH yang harus disikapi secara benar sesuai dengan ajaran-Nya. Pensikapan yang benar terhadap segala bentuk ujian inilah yang disebut sabar.
Dalam menghadapi dua macam ujian ini kita patut waspada dan perlu memperhatikan peringatan-peringatan yang pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah SAW maupun para ulama’. Mereka pada umumnya merasakan bahwa menghadapi ujian berupa kesenangan/kenikmatan jauh lebih berat dari pada ujian yang berupa kesulitan. Ketika para sahabat Rasul di Madinah telah mencapai kemakmuran dengan memiliki harta kekayaan yang berlimpah, banyak diantara mereka yang mengatakan, “Kami telah diuji dengn berbagai kesulitan/penderitaan maka kami mampu bersabar, tetapi ketika kami diuji dengan berbagai kesenangan/kenikmatan, maka ternyata kami tidak mampu bersabar.”
Demikian pula seorang ulama’ bernama Syekh Sahal menyatakan bahwa “bersabar dalam menerima kesenangan jauh lebih berat dari pada bersabar mengahadapi penderitaan”. Artinya bahwa seseorang sering kali menjadi lupa ajaran allah dan kehilangan kendali diri ketika mendapatkan kesuksesan/kesenanagan, meskipun banyak pula yang tidak sabar dalam menghadapi kesulitan/penderitaan.
Oleh sebab itu patutlah kita memperhatikan peringatan tadi Allah bahwa berbagai bentuk kesenangan dan kenikmatan pada hakikatnya adalah juga merupakan ujian. Dan Allah Mengingatkan agar kita jangan sampai terlena dan menyeleweng dari ajaran-Nya oleh berbagai kesenangan tersebut. Di dalam surat an-Anfaal ayat 28 Allah Mengingatkan bahwa harta kekayaan dan anak-anak (keluarga) adalah sebagian dari bentuk kesenangan yang merupakan ujian. Oleh karenanya Allah Mengingatkan di dalam surat al-Munaafiquun ayat 9, “Wahai orang-orang yang beriman jangankah hartamu dan anak-anakmu membuat kamu berpaling dari mengingat Allah (mematuhi ajarannya).”
Melalui media yang mulia ini marilah kita meneguhkan semangat untuk menjadi hamba-hamba Allah yang sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup baik yang berupa kesulitan/penderitaan maupun yang berupa kesenangan/kenikmatan, sehingga kita tetap memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan Allah, serta tidak pernah menyimpang dari ajaran-Nya. Hal ini penting untuk kita upayakan karena hanya orang yang sabarlah yang dijanjikan anugerah besar dari Allah, berupa kesejahteraan, kasih sayang (rahmat) dan petunjuk jalan hidup yang benar. Hal ini dinyatakan oleh Allah pada surat al-Baqarah ayat 157, “Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan Rahnat dari Tuhan mereka, dan merekalahn yang mendapatkan petunjuk (jalan yang benar).”
Wallaahu A’lam bishhowaab.

• Biaya Pendidikan Anak-anak Panti Tidak ada toleransi

Oleh: Drs. Imam Hidajadh. M,M


Seandainya, Allah SWT tidak menolong kami, lewat hamba –hamba Allah yang datang ke panti dengan cara memberikan sebagian rezekinya, enta itu uang, barang bahan makanan, maka barangkali panti kami ini sudah lama bangkrut. Sejak berdiri, tahun 1998 (kurang lebih 11 tahun), Alhamdulillah, ditolong oleh Allah SWT. yayasan Dharmais, hanya memberi Rp.4,5juta setiap 3 bulan sekali. departemen Sosial, tergantung anggaran, dan tidak selalu dapat (bergantian) terahir kompensasi BBM tahun 2008 sebesar Rp 29 juta setahun untuk 70 anak yang kami asuh,dan semuanya sekolah, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, atau SMK/MAN.
Padahal biasanya oprasional, setiap bulan menimal Rp.15-20 juta rupiah, dan apabila tahun ajaran baru menghabiskan biaya pendidikan saja, sekitar 25 juta rupiah. Allahuakbar, Alhamdulillah ini panti kami, masih ditolong oleh Allah SWT, lewat hamba-hamba yang datang ke panti, sehingga kami terus berdiri sampai saat ini.
Selama 11 tahun ini, rasanya tidak ada pengusaha-pengusaha besar di kota Malang, Batu atau Kab. Malang, yang datang ke panti kami. Karena apa? Kami tidak tahu. Ketika kami berziarah kewali sunan Drajat di lamongan, sambil bertafaktur kami berdo’a di masjid, ya Allah, seandainya kami didatangkan olehMu pengusaha ke panti
Kami, dan mereka lalu membantu panti kami, Ya Allah, betapa bahagia kami.
Sangat sayang sekali, dan itupun benar, salah satu calon kepala Daerah di salah satu daerah, sampai menghabiskan bermilyar –milyar untuk keperluan kampanyenya , lewat iklan polotik,baliho, spanduk, poster dan operasional tim suksesnya.
Panti kami sangat sederhana.dengan para ustadz yang memiliki semangat tinggi,meskipun tidak di bayar,alhamdulilah belum pernah dapat dari biaya kampanye itu. kenapa demikian? kami menyadari bahwa kami hanya memiliki anak-anak yang tidak memiliki akses dan potensi apa-apa kami hanya memiliki kemampuan do’a-do’a.
BIYAYA PENDIDIKAN
Kadangkala kami berfikir, merenung panjang bahwa biaya pendidikan anak-anak, mulai dari SPP, biaya gedung, tak ada keringanan dan SULIT DIBERI KERINGANAN, meskipun kami dengan susah payah memohon, menangis, meminta belas kasihan. Bisa dibayangkan ada anak panti kami yang di kenakan biaya RP.4 juta, ada yang RP 2 juta, yang paling murah RP.200 ribu. Bahkan ada yang berkata: ”anak-anak panti memang miskin, tapi pengurusnya kan kaya?”ya, allah….!! Tentu kebijakan panti ini tidak semua sekolah bertindak demikian, tapi kenyataanya 1 atau 2 sekolah saja yang menolong kami. Kami mengerti, dan sangat mengerti, bahwa keperluan sekolah berserta kesejahteraan guru sangat kurang, apalagi untuk kesejahteraan Guru Sukwan, sangat kecil sekali. ada sekolah SMP swasta yang memberikan humor ke guru sukwanya satu bulan hanya RP.50 ribu. Kami percaya, bahwa dana pendidikan yang besar itu , untuk keperluan sekolah, karena apa yang diberikan oleh pemerintah sangat tidak cukup. BOS, yang didengung-dengungkan tidak semua murid miskin yang berhak dapat, karena ada jatah untuk dana itu. Kenapa beberapa lembaga pendidikan, kami hanya biasa berharap untuk Dana pembangunan/atau istilah lain infaq atau uang gedung dll, bagi anak-anak Panti yang ada di satu sekolah hanya 5 orang.
REKREASI
Suatu pengalaman lagi, ketika hari liut beberapa waktu yang lalu, sekolah-sekolah mengadakan rekreasi, rata-rata anak panti kami tidak ikut. Bagaimanpun mereka juga ingin rekreasi. “pak, ayo rekreasi, kenapa kita tidak pernah rekreasi? “paling kita ke play ground sebelah matos atau ke sena putra, kan murah?” keluh mereka
Ya Allah, berilah kami jalan, untuk dapat merekreasikan anak-anak panti kami itulah doa-doa sehari-hari kami. Akhirnya, kami ingat teman-teman, sahabat-sahabat, dan kenalan kami, kami layangkan surat permohonan bantuan.
Mereka senang tertawa, bergembira, lupa keluarganya dan dirinya. Saya terharu meneteskan air mata, ketiak mengetik artikel ini! Ya Allah Engkau Mahapengasih, penolong kami, juga hamba-hamba Mu yang engkau gerakan membantu kami!.
Dan mudah-mudahan amal mereka diterima olehMu ya Allah

Selasa, 08 Desember 2009

Menjadi Manusia Yang Baik

Oleh: Drs. Sri Hidayati

Suatu kenyataan yang tidak dapat dibantah, kita didunia ini tidak dapat hidup sendirian, tidak dapat hidup sebatang kara. Kita semua ini bukanlah malaikat, yang dapat hidup dengan tidak makan, minum, dan lain sebagainya.
Kita adalah manusia, kita adalah anak Adam yang tidak boleh tidak pasti mempunyai banyak keperluan hidup, baik bersifat rohani maupun yang bersifat jasmani, baik yang primer maupun yang sekunder.
Kita semua tahu hampir semua kebutuhan hidup kita ini sampai kepda kebutuhan hidup kita yang sekecil-kecilnya sekalipun tidak mungkin dapat kita cukupi hanya dengan usaha tangan kita sendiri tanpa bantuan orang lain. Kita makan misalnya, setiap suap nasi yang kita makan, kita memerlukan bantuan puluhan atau bahkan ratusan dan ribuan orang lain yang bekerja mewujudkan setiap suap nasi kita itu, sejak mulai biji padi dijatuhkan di tanah, sampai akhirnya berwujud nasi yang siap untuk dimakan.
Misalnya lagi, kita mencari ilmu. Setiap bagian ilmu yang kita pelajari, pastilah sebelum itu sudah banyak sekali orang lain yang telah bekerja bersusah payah sehingga ilmu itu dapat dan mudah kita pelajari. Kita tinggal membaca buku atau mendengarkannya, dan kita tidak melakukan penyelidikan mulai dari nol ketika ilmu itu belum ditemukan. Dan lain sebagainya.
Jadi saudara-saudara kita semua pasti memerlukan bantuan orang lain. Dan hajat kita akan bantuan orang lain, bergaul dengan orang lain. Dengan kata lain, kita semua ini harus hidup bermasyarakat. Itulah sebabnya sudara-saudara, para sosiolig berkata bahwa; “manusia adalah makhluk social”
Agama islam membawa misi sosial, sebab ia diturunkan memang memperbaiki masyarakat umat manusia. Karena itu sesuai dengan misi islam ialah misi sosial ini, islam banyak mempunyai ajaran dibidang ssoial kemasyarakatan yang membawa kita kaum muslimin menjadi manusia sosial yang baik, yang mampu berhubungan dan bergaul dengan orang lain secara baik
Ajaran-ajaran islam yang demikian ini, kita temukan misalnya pada perintah zakat bagi yang mampu, anjuran berqurban binatang pada setiap ‘idul qurban, anjuran sedekah, anjuran menyebarkan salam islam kepada orang lain baik yang kita kenal maupun tidak, dan kewajiban naik haji bagi yang telah memenuhi syarat-syaratnya.
Selain itu diutamakan oleh Allah dengan memberikan pahala yang lebih besar dari pada amalan-amalan yang kita kerjakan secara individu, maisalnya shalat lima wakttu yang kita kerjakan secara berjemaah.
Dengan ajara-ajaran sosial dalam Islam yang demikian ini, kita di didik oleh agama islam supaya kita dapat menjadi “manusia sosial yang baik” yang pandai membawa diri didalam hidup bermasyarakat
Seluruh manusia itu adalah umat yang satu. Dalam hidup bemasyarakat, kita bergaul dengan banyak pihak. Dan dengan semua pihak ini, tidak peduli suku apa, pangkatnya apa, agamnya apa, dan lain sebagainya.
Kita diminata oleh islam untuk bergaul dengan baik. Terutama terhadap pihak-pihak yang berikut ini, harus kita berikan priorotas untuk kita pergauli dengan baik yaitu:
1. Kedua orang tua, ibu dan bapak kita masing-masing
2. Orang-orang yang menjadi karib kerabat kita
3. Anak-anak yatim
4. Orang-orng miskin
5. Tetangga yang dekat maupun yang jauh dengan kita, baik dilihat dari segi tempat, hubungan keluarga maupun dilihat dari segi muslim dan bukan muslim.
6. Orang-orang yang menjadi teman sejawat kita
7. Ibnu sabil yaitu, para musafir yang kahabisan bekal yang kepergiannya tidak untuk maksiat.
8. Hamba sahaya
semuanya itu difirmankan oleh Allah dalam surat Annisa’ ayat 36 yang artinya:
“sembahlah Allah, jangan kamu sekutukan Dia dengan sesuatu. Berbuat Berbaiklah kepada kedua orang tuamu, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah tidak suka kepada mereka yang sombong dan membagga-banggakan diri.
Bergaul yang baik dengan sesama manusia dapat dibagai menjadi tiga tingkat:
Tingkat pertama:
Ialah tingkat yang paling rendah yaitu kita bergaul dengan orang lain hanya sekedar kita tidak membuta susah kepada orang lain dan tidak mengganggu mereka. Misalnya
Pada waktu siang hari selagi orang lian tengah istirahat tidur siang atau tengah asik belajar, kita tidak membunyikan TV atau Radio keras-keras, contah yang lian adalah tidak membuang sampah sembarang sehingga mengganggu tetangga dan lain sebagainya. Jadi menurut cara bergaul tingkat rendah ini, kita bergaul secara positif sebab kita tidak berbuat ini dan itu yang dapat menyusahkan orang lain. Cara bergaul tingkat rendah inilah yang oleh Rasulullah disabdakan: yang artinya “barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya
Teingkat kedua ialah bergaul yang lebih tinggi dari pada bergaul tingkat pertama. Bergaul yang baik dengan orang lain menurut tingkat kedua ini kita bergaul tidak secara pasif lagi tetapi secara aktif, dengan kita berbuat dan bermanfaat bagi orang lain. Kita tidak sekedar hanya “tidak menggangu orang lain”, tetapi lebih dari itu kita sudah memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain. Cara bergaul begini, terkandung dalam sabda Rasul: “makhluk itu seluruhnya adalah keluarga Allah. Diantara mereka itu yang paling dicintai oleh Allah ialah yang peling bermanfaat kepada keluarga Allah.” Lebih jauh Rasulullah menerangkan: “tahukah kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Bila tetangga minta tolong tolonglah ia. Bila ia ingin hutang kepadamu, hutangilah dia. Bila ia memerlukan sesuatu, berikan sesuatu kepadanya. Bila ia jatuh sakit, jenguklah ia. Bila ia meninggal dunia antarkanlah jazahnya. Bila memperolah sesuatu yang menggembirakan, ucapkanlah selamat kepadanya. Bila ia mendapat sesuatu musibah, tunjukkanlah rasa simpati kepadanya. Janganlah kamu mendirikan bangunan yang tinggi yang menutupi udara tetangga itu kecuali kalau sudah mendapat ijin. Bila kamu membeli buah-buahan hadakkan sebagian kepadanya, bila tidak masukkanlah kerumah pelan-pelan dan jangan sampai anak-anakmu membawa keluar buah-buahan itu supaya tidak membikin jengker anak tetanggamu. Janganlah kamu sakiti hati tetangga dengan bau masakan didapur, kecuali kalau kamu berikan sebagian kepadanya. Tahukan kamu, apa yang menjadi hak tetangga? Demi zat yang mengusai jiwaku tidak akan bisa menyadari hak tetangga kecuali orang yang dirahmati oleh Allah”.
Cara bergaul yang baik yang ketiga ini adalah cara bergaul yang terbaik dan tertinggi. Boleh dikatakan cara bergaul yang ketiga inilah yang banyak dikerjakan oleh para Nabi dan orang-orang mukmin yang telah tinggi tingkatan kemukminannya.
Menurut cara bergaul yang ketiga ini, kita tidak hanya sekedar “tidak mengganggu orang lain dan tidak hanya sekedar memberi manfaaat kepada orang lain” seperti pada cara bergaul menurut tingkat pertama dan kedua, melainkan lebih dari itu kita sudah berbuat ketingkat yang lebih sempurna lagi, yaitu kita menahan diri dengan sabar terhadap tindakan orang lain yang menyakitkan kita, bahkan kita balas perbuatan yang tidak baik itu dengan kebaikan. Sabda Rasulullah : “jika kamu ingin melebihi tingkat mereka yang tergolong shiddiqun (orang-orang yang benar) sambunglah hubungan persaudaraan dengan mereka yang memutuskan hubungan persaudaraan itu, berilah mereka yang menahan pemberian dan maafkanlah mereka yang berbuat dzalim kepadamu”.
Memang sebagian orang kurang begitu memperhatikan pergaulannya dengan orang lain dan tidak ambil perduli terhadapt masyarakat sekitarnya. Berdikap masa bodoh dengan tidak senang bergaul dengan orang, bahkan tingkah lakunya menunjukkan sifat-sifat angkuh dan angker, terutama kepada orang-orang yang tingkatnnya yang lebih rendah. Tidak ada keramahan, tidak ada kedermawanan, tidak ada sikap tawadhu.
Semua bentuk-bentuk tingkah laku yang sifatnya asosial, tentu sangat keliru dan sangat tidak bijaksana. Sampaipun andaikata yang bertingkahlaku yang demikian orang islam yang banyak ibadahnya kepada Allah dan mengerjakan amal-amal seperti shalat, puasa, dan lain-lain, juga tidak dapat dibenarkan dan semua amal ibadahnya yang banyak itu mungkin akan menjadi sesuatu yang percuma. Ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi: ya Rasulallah si pulanah (seorang banyak mengerjakan shalat,puasa, sedekah akan tetapi dia selalu menyakiti hati tetangganya dengan mulutnya, bagaimana dengan si pulanah yang demikian ini? Beliau menjawab dia masuk neraka.
Hadist ini menunjukkan kepada kita bahwa tidak dibenarkan orang yang banyak ibadah tetapi sikapnya asosial kepada masyarakat sekitar, sanksi orang yang demikian adalah neraka. Dan tentunya lebih tidak dapat dibenarkan lagi, kalau ibadahpun tidak dikerjakan, ditambah lagi sikap hidupnya juga asosial kepada masyarakat sekitar. Alangkah bijaksana kalau kita semua mampu menjadikan diri kita sebagai hamba Allah yang taat dan banyak beribadah kepadanya, tetapi selain itu sekaligus juga kita mampu menjadikan menjadikan diri kita sebagai makhluk sosial yang baik atau masyarakat yang baik, karena demikianlah ajaran agama kita agama islam.
Jadi kita adalah orang islam yang mempunyai banyak sahabat dan pandai membawakan diri ditengah-tengah masyarakat, sebab Rasulullah bersabda: “siapa yang ingin umur yang panjang dan mendapat riski yang lapang hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan hendaklah ia mengadakan silaturrahmi.