Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Jumat, 11 Desember 2009

Mari Berqurban, Jangan Jadi Korban

Oleh: Tim Dakwah Panti Asuhan Nurul Abyadh
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walilahilhamdu. Allah Maha Besar, Allah Maha Agung, Maha Dari pada keagungan yang diagung-agungkan manusia di muka bumi ini. Alhamdulillah, bahagia rasanya kita masih sempat menikmati karunia Allah, berupa hari Raya Idul Adha ini.
Idul Adha atau Idul Qurban, atau yang dinamakan juga adkhiyah-berasal dari kata Adkha yang berarti waktu Dhuha-adalah hari yang penuh hikmah bagi siapapun yang menyadari. Hari Qurban, hari keikhlasan, hari loyalitas hamba Allah yang beriman kepada Allah, dan hari kepasrahan diatas segalanya.
Kita tentunya patut bersyukur, apalagi bagi mereka yang berkesempatan pada bulan ini melaksanakan ibadah haji, puasa sunnah 10 hari permulaan bulan ini, puasa hari arafah,Tasu’a dan Asyura. Tak terkecuali, bagi mereka yang berniat menyembelih hewan qurban yang disyari’atkan sejak tahun ke-2 Hujriah.
Menyembelih hewan qurban. Banyak manfaatnya. Fungsi utamanya adalah sebagai tanda syukur atas segala nikmat yang dikaruniakan Allah, seperti yang disebutkan dalam Surat Al-Kaustar ayat 1-2: “sesungguhnya kami telah memberikan kepadamu nikamat yang banyak. Maka dirikanlah Sholat karena Tuhanmu;dan berqurbanlah.” Dari segi ritual Al-Quran Surat Al-Hajj ayat 37, Allah SWT berfirman: “daging-daging Unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu.
Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik,” disini disebutkan bagaimana ketakwaan seorang hamba bisa ditunjukkan dengan kemauan hamba itu untuk berqurban. Apalagi dari segi sosial, daging hewan qurban yang dibagikan kepada para Du’afa’, atau fakir miskin bisa memperkecil jurang pemisahan antara si kaya dan si miskin, dan terciptalah kebersamaan dan kebahagiaan dihari tersebut.
Menyembelih qurban merupakan sunnah Rasul yang amat besar pahalanya dan amat luas maknanya. Rasul SAW bersabda: “tidak ada sesuatu amalan anak Adam di hari Nahar (hari penyembelihan qurban) yang lebih disukai Allah, sealain dari menyembelih qurban.” Karena itulah agama kita mensyari’atkannya sebagai amanah sunnah Muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi yang mampu berqurban namun tidak melaksanakannya, dalam kitab sunnah Ibnu Majah, Rasululah SAW menyatakan:”barang siapa yang mempunyai keluasan untuk berqurban, kemudian Ia tidak berqurban,maka janganlah Ia mendekati tempat sembahyang kami.” Rasululah SAW juga bersabda dalam salah satu Hadistnya yang menerangkan apabila dalam, satu rumah tangga tidak seorangpun yang berqurban, karena sayang dan takut terkurangi hartanya, maka kata beliau tercelalah seisi rumah itu.
Tak mudah memang dan bukan sembarang orang yang sanggup mengeluarkan hartanya untuk kepentingan orang lain, atau untuk berqurban. Hal ini cukup beralasan. Bagaimana mungkin harta yang sekian lama kita kumpulkan, dicari dengan sekuat tenaga, dikeluarkan dengan mudahnya untuk keperluan orang lain, apalagi yang mungkin tidak ada hubungan darah denagn kita? Dan ini adalah watak dasar setiap dari kita; mencintai setiap hal yang berbau dunia dan takut akan kekurangannya, sebagaimana diterangkan dalam Surat Al-Imron ayat 14: “ dijadikan indah pada pandangan manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu:wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis Emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia ini, dan sisi Allah-Lah tempat kembali yang baik (surga).”ditambahkan dalam surat Al-Baqara 155: dan sungguh akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Namun, hendaknya kesenangan, kecintaan, kegandrungan dan ketakutan tersebut tidak melainkan kita untuk beribadah kepada Allah. Melalui firman-Nya dalam surat Al-Munafiqun ayat 9, Allah mengingatkan:”hai oranng-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.”
Kita, sebagai hamba yang ingin menunjukkan keimanan dan ketaqwaan pada pencipta kita, tentunya tidak ingin menjadi kaum yang merugi, menjadi budak, hamba atau bahkan korban dari krhidupan dunia kita, seperti halnya kaum Mutrafin.
Ibnu katsir dalam tafsirnya IV: 294, menerangkan bahwa Mutrafin adalah mereka yang hidup mewah, yang perhatiannya hanya tertuju pada kegemerlapan harta, benda dan kecintaan pada kehidupan duniawi, dan untuk kepentinngan dirinya sendiri. Syeikh Muhammad Abduh, pemikir Islam, juga menyatakan pandangannya bahwa kaum mutrafin adalah mereka yang dikarenakan mendapat nikmat kesenangan lalu melaksanakan kemaksiatan dan kedurhakaan di hadapan Allah. (Tafsir Al Mannar oleh Rosyid Ridha).
Intinya, kaum mutrafin adalah para korban harta, dan perhiasan dunia. Mereka adalah manusia yang Ulin ni’mah, yang pada prinsipnya selalu ingin mengejar dan meraih keuntungan duniawi, mewah dengan rumah dan harta benda, serta mabuk dengan kesenangan,kemajuan ilmu pengetahuan, politik, model, dan mode. Kaum mutrafin, jauh dari agamanya, jauh dari amal dan shodaqoh, jauh dari kasih sayang kepada yatim piatu dan fakir miskin. Na’udzubillah.
Sekali lagi, memang tidaklah mudah untuk menafkahkan harta kita di jalan Allah. Dan justru ada rasa berat, eman, itulah nilai perjuangan dan penghambaan kepada Allah terletak sebagai salah satu bentuk ujian dalam beribadah. Surat Al-Imran 142: menyebutkan “apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang “berjihad diantaramu dan belum nyata orang-orang yang sabar. Sejalan dengan itu, surat Al-Ankabut ayat 2 Allah berfirman: “apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?
Nah para pembaca ynag budiman . islam tidaklah mengingkari bahwa masing-masing dari kita mempunyai rasa kesenangan terhadap harta duniawi, dan justru Islam mengarahkan bagaimana rasa senang ini tidak melalaikan kita dan malahan bisa diolah untuk mendekatkan diri kepada Yang Menitipkan harta itu kepada kita.
Kita yakin tak seorangpun dari kita yang ingin menjadi orang yang merugi seperti yang diterangkan dalam surat Al-Munafiqun ayat 9 diatas. Karena itulah, Allah melanjutkannya dalam ayat ke kesepuluh: “dan belanjakanlah sebagian dari apa yang telah kami berikan kepadamu sebelum datang kematian kepada salah seorang diantara kamu; lalu ia berkata: ‘ya Rabb-ku, mengapa engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang memyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang sholeh?” karena itulah, kaum muslimin yang budiman, selagi kita masih dikaruniakan umur, dan harta yang berlebih, marilah kita gunakan untuk meningkatkan kedekatan kita kepada Allah. Dan tentunya kita takut termasuk golongan manusia yang disebutkan dalam surat Al-A’raf ayat 50-51: “dan penghuni neraka menyeru penghuni surga:” limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah dirizkikan Allah kepadamu. ” Mereka (penghuni surga) menjawab:”sesungguhnya Allah telah mengharapkan keduanya itu atas orang-orang kafir, (yaitu) orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau, dan kehidupan dunia telah menipu mereka.” Maka pada hari (kiamat) ini, kami melupakan mereka sebagaimana mereka melupakan pertemuan mereka dengan hari ini, dan (sebagaimana) mereka selalu mengingkari ayat-ayat kami. Wallahu A’lam bish-showaab.

Tidak ada komentar: