Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 10 Desember 2009

Sabar yang Benar dan “Sabar” yang Salah

Di dalam al-Qur’an sering sekali Allah menyebut kalimat sabar ini dalam berbagai shighat dan ungkapan. Tidak kurang dari 29 kali Allah menyebut kata sabar ini dalam bentuk kalimat perintah, baik yang ditujukan kepada para Nabi terdahulu dan umatnya, maupun kepada Rasulullah SAW secara pribadi beserta seluruh umatnya. Banyak pula Allah menyebut keutamaannya dan keunggulan orang-orang yang sabar, serta menjanjikan berbagai balasan baik kepada mereka. Bahkan sering pula Allah menjadikan kesabaran sebagaii syarat diberikannya hidayah, pertolongan, rahmat, serta keselamatan.
Sering kali orang memaknai kata sabar ini dengan pengertian yang terbatas, sehingga melahirkan konotasi yang pasif dan statis, padahal makna yang sebenarnya tidaklah demikian. Sabar bukan berarti diam menunggu datangnya pertolongan, apalagi pasrah dan menyerah pada nasib, serta terkurung dalam keputusasaan. Sebaliknya, sabar justru mengisyaratkan adanya ketegaran dan ketangguhan dalam menghadapii hempasan gelombang dan badai kehidupan, sabar juga mengajarkan ketekunan dan keuletan sehingga memunculkan gagasan kreatif dan ide-ide cemerlang dalam mengatasi berbagai kesulitan dan problema hidup.
Para ulama’ tasawuf mendefinisikan sabar dengan pengertian adanya “ketahanan jiwa” seseorang dalam mengendalikan dorongan hawa nafsu yang seringkali diperkuat oleh tipu daya syetan untuk melakukan penyimpangan dari jalan ALLAH. Apalagi ditambah dengan pengaruh lingkungan pergaulan yang selalu menghadirkan beragam persoalan dan sering pula diwarnai dengan guncangan-guncangan.
Berdasarkan pengertian terakhir ini, maka sabar berarti ketabahan untuk selalu berpegang teguh pada ajaran ALLAH, meskipun harus menghadapi beratnya godaan dan rintangan. Orang yang sabar tidak akan pernah kehilangan pegangan dan selalu dapat mengendalikan diri ke arah jalan ALLAH, bagaimanapun beratnya tekanan dan beban kehidupan. Dengan demikian maka hakikat kesabaran itu mengandung makna ketangguhan, ketabahan, ketekunan, istiqomah, kreatif, dan bahkan inovatif.
Kalau kita lihat dalam al-Qur’an, maka pengertian sabar seperti disampaikan tadi sangat bersesuaian dengan firman Allah, surat Ali ‘Imran ayat 146: “Maka mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah dan mereka juga tidak menjadi lesu (patah semangat) serta tidak menyerah (kepada musuh), dan Allah sangat menyukai orang-orang yang sabar.”
Di dalam ayat tersebut ditegaskan bahwa orang-orang yang sabar yang dicintai oleh Allah adalah mereka yang tidak lemah dalam menghadapi kesulitan,tidak mudah patah semangat dalam berjuang, dan tidak pernah menyerah pada lawan dalam membela agama Allah. Keseluruhan sifat yang disebut di dalam ayat ini mencerminkan pribadi yang kokoh, ulet dan selalu optimis dalam menghadapi segala rintangan.
Pemahaman dan penghayatan makna sabar seperti dikemukakan tadi patut kita kembangkan secara terus menerus dan kita aktualkan dalam sikap hidup keseharian, karena saat ini banyak sekali orang yang kehilangan kesabaran ketika menghadapi berbagai guncangan, baik guncangan politik, guncangan ekonomi, maupun guncangan budaya.
Banyak orang kehilangan kendali diri ketika memasuki wilayah politik sehingga begitu mudah melakukan kebohongan, kecurangan, pengkhianatan, membuat janji palsu, bahkan memanipulasi dalil-dalil agama hanya untuk meraih target-target politik mereka. Banyak pula orang yang mencampakkan aturan dan hukum-hukum ALLAH ketika mengalami guncangan ekonomi atau terbius oleh keserakahan duniawi, sehingga mereka memilih jalan pintas dengan melakukan penipuan, berjudi, korupsi, serta berbagai bentuk transaksi haram lainnya.
Demikian pula guncangan budaya yang membuat banyak orang kehilangan identitas dan citra dirinya, serta meninggalkan budaya Islami yang luhur. Mereka begitu mudah larut dan terhanyut dalam budaya sekuler yang memporak-porandakan moral, baik dalam pola berpakaian, gaya bicara, tata pergaulan dan gaya hidup secara keseluruhan.
Di dalam surat al-Ma’aarij ayat 5, Allah memerintahkan kepada kita agar bersabar dengan kesabaran yang baik, “Maka bersabarlah kamu dengan yang baik.”
Syekh Hunain M. Makhluf dalam kitabnya “Kalimaat al-Qur’an, Tafsir Wa Bayaan” memaknai kalimat “Shabran Jamiilan” ini dengan arti kesabaran yang tidak disertai keluh kesah kepada siapapun selain hanya kepada Allah saja. Kesabaran semacam inilah yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ya’qub as. Ketika dua kali beliau kehilangan dua putera kesayangannya, sehingga di dalam surat Yusuf dua kali beliau menyebut kalimat Fashabrun Jamiil. Hal ini berarti bahwa sabar itu tidak pernah berkeluh kesah sedikitpun kepada siapapun, yang mencerminkan adanya jiwa yang tegar serta mental yang tangguh.
Membangun jiwa yang kuat dan mental yang tangguh juga diperintahkan oleh Allah, karena Allah sangat Menyukai umat yang kuat. Untuk itu, Allah Mengingatkan umat Islam agar tidak meninggalkan generasi enerusnya dalam kondisi yang lemah. Hal ini tersirat dalam surat an-Nisaa’ ayat 9, “Dan hendaklah mereka takut (kepada Allah) kalau meninggalkan anak-anak (keturunan) yang lemah, yang mereka khawatirkan kesejahteraannya, maka hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka berkata dengan perkataan yang benar.”
Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas menyatakan bahwa ayat ini ditujukan kepada orang yang meninggal, apabila mereka membuat wasiat, hendaknya selalu memperhatikan kesejahteraan ahli warisnya. Jangan sampai wasiat itu melalaikan ahli warisnya sendiri, sehingga mereka tidak memperoleh bagian harta waris yang memadai, akhirnya mereka menjadi miskin dan lemah.
Namun apabila dicermati lebih mendalam, maka didalam ayat ini juga terdapat peringatan agar setiap manusia mempersiapkan serta mengkondisikan jiwa yang kuat dan mental yang tangguh pada anak cucu keturunan mereka. Hal itu dapat dilakukan utamanya dengan memberikan pendidikan yang memadai, menciptakan lingkungan yang baik untuk perkembangan fisik maupun mental, memberikan asupan makanan yang sehat dan halal, termasuk dengan meninggalkan harta waris yang cukup.
Allah swt Menjadikan sikap sabar ini sebagai ukuran utama untuk menilai kualitas iman seseorang. Bahkan dalam sebuah hadits dari sahabat ‘Abdullah Bin Mas’ud, Rasulullah SAW pernah menyatakan bahwa: sabar itu merupakan separuh dari kesempurnaan iman, as-shabru Nishfu al-Iman. Oleh karena itulah, ALLAH selalu Memberikan ujian kepada setiap hamba-Nya untuk menilai kualitas iman yang terungkap dalam tingkat kesabaran mereka.
Dan dalam al-Qur’an beberapa kali Allah Menyatakan bahwa Dia pasti akan menguji setiap hamba-Nya, salah satunya terdapat pada surat Muhammad ayat 31, “Dan sesungguhnya kami benar-benar akan menguji kalian sehingga kami mengetahui orang yang sungguh-sungguh berjuang dan bersabar diantara kalian, dan kami mengetahui kenyataan sikap kalian.”
Ujian yang ditimpakan oleh Allah ada kalanya berupa kebaikan (hal yang menyenangkan) dan ada kalanya yang berupa penderitaan (hal yang menyusahkan). Hal ini diterangkan dalam surat al-A’raaf ayat 168, “Dan kami telah menguji mereka dengan kebaikan (kenikmatan) dan kejelekan (bencana) agar mereka mau kembali (ke jalan yang benar).”
Juga pada surat al-Anbiyaa’ ayat 35, “Dan kami akan menguji kaliandengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan, dan hanya kepada kamilah kalian semua akan dikembalikan.”
Dengan demikian, segala hal yang dialami dalam hidup manusia ini pada hakiktnya adalah ujian dari ALLAH yang harus disikapi secara benar sesuai dengan ajaran-Nya. Pensikapan yang benar terhadap segala bentuk ujian inilah yang disebut sabar.
Dalam menghadapi dua macam ujian ini kita patut waspada dan perlu memperhatikan peringatan-peringatan yang pernah disampaikan oleh para sahabat Rasulullah SAW maupun para ulama’. Mereka pada umumnya merasakan bahwa menghadapi ujian berupa kesenangan/kenikmatan jauh lebih berat dari pada ujian yang berupa kesulitan. Ketika para sahabat Rasul di Madinah telah mencapai kemakmuran dengan memiliki harta kekayaan yang berlimpah, banyak diantara mereka yang mengatakan, “Kami telah diuji dengn berbagai kesulitan/penderitaan maka kami mampu bersabar, tetapi ketika kami diuji dengan berbagai kesenangan/kenikmatan, maka ternyata kami tidak mampu bersabar.”
Demikian pula seorang ulama’ bernama Syekh Sahal menyatakan bahwa “bersabar dalam menerima kesenangan jauh lebih berat dari pada bersabar mengahadapi penderitaan”. Artinya bahwa seseorang sering kali menjadi lupa ajaran allah dan kehilangan kendali diri ketika mendapatkan kesuksesan/kesenanagan, meskipun banyak pula yang tidak sabar dalam menghadapi kesulitan/penderitaan.
Oleh sebab itu patutlah kita memperhatikan peringatan tadi Allah bahwa berbagai bentuk kesenangan dan kenikmatan pada hakikatnya adalah juga merupakan ujian. Dan Allah Mengingatkan agar kita jangan sampai terlena dan menyeleweng dari ajaran-Nya oleh berbagai kesenangan tersebut. Di dalam surat an-Anfaal ayat 28 Allah Mengingatkan bahwa harta kekayaan dan anak-anak (keluarga) adalah sebagian dari bentuk kesenangan yang merupakan ujian. Oleh karenanya Allah Mengingatkan di dalam surat al-Munaafiquun ayat 9, “Wahai orang-orang yang beriman jangankah hartamu dan anak-anakmu membuat kamu berpaling dari mengingat Allah (mematuhi ajarannya).”
Melalui media yang mulia ini marilah kita meneguhkan semangat untuk menjadi hamba-hamba Allah yang sabar dalam menghadapi berbagai ujian hidup baik yang berupa kesulitan/penderitaan maupun yang berupa kesenangan/kenikmatan, sehingga kita tetap memiliki hubungan yang baik dan dekat dengan Allah, serta tidak pernah menyimpang dari ajaran-Nya. Hal ini penting untuk kita upayakan karena hanya orang yang sabarlah yang dijanjikan anugerah besar dari Allah, berupa kesejahteraan, kasih sayang (rahmat) dan petunjuk jalan hidup yang benar. Hal ini dinyatakan oleh Allah pada surat al-Baqarah ayat 157, “Mereka itulah yang mendapat keberkahan yang sempurna dan Rahnat dari Tuhan mereka, dan merekalahn yang mendapatkan petunjuk (jalan yang benar).”
Wallaahu A’lam bishhowaab.

• Biaya Pendidikan Anak-anak Panti Tidak ada toleransi

Oleh: Drs. Imam Hidajadh. M,M


Seandainya, Allah SWT tidak menolong kami, lewat hamba –hamba Allah yang datang ke panti dengan cara memberikan sebagian rezekinya, enta itu uang, barang bahan makanan, maka barangkali panti kami ini sudah lama bangkrut. Sejak berdiri, tahun 1998 (kurang lebih 11 tahun), Alhamdulillah, ditolong oleh Allah SWT. yayasan Dharmais, hanya memberi Rp.4,5juta setiap 3 bulan sekali. departemen Sosial, tergantung anggaran, dan tidak selalu dapat (bergantian) terahir kompensasi BBM tahun 2008 sebesar Rp 29 juta setahun untuk 70 anak yang kami asuh,dan semuanya sekolah, mulai dari TK/RA, SD/MI, SMP/MTs, atau SMK/MAN.
Padahal biasanya oprasional, setiap bulan menimal Rp.15-20 juta rupiah, dan apabila tahun ajaran baru menghabiskan biaya pendidikan saja, sekitar 25 juta rupiah. Allahuakbar, Alhamdulillah ini panti kami, masih ditolong oleh Allah SWT, lewat hamba-hamba yang datang ke panti, sehingga kami terus berdiri sampai saat ini.
Selama 11 tahun ini, rasanya tidak ada pengusaha-pengusaha besar di kota Malang, Batu atau Kab. Malang, yang datang ke panti kami. Karena apa? Kami tidak tahu. Ketika kami berziarah kewali sunan Drajat di lamongan, sambil bertafaktur kami berdo’a di masjid, ya Allah, seandainya kami didatangkan olehMu pengusaha ke panti
Kami, dan mereka lalu membantu panti kami, Ya Allah, betapa bahagia kami.
Sangat sayang sekali, dan itupun benar, salah satu calon kepala Daerah di salah satu daerah, sampai menghabiskan bermilyar –milyar untuk keperluan kampanyenya , lewat iklan polotik,baliho, spanduk, poster dan operasional tim suksesnya.
Panti kami sangat sederhana.dengan para ustadz yang memiliki semangat tinggi,meskipun tidak di bayar,alhamdulilah belum pernah dapat dari biaya kampanye itu. kenapa demikian? kami menyadari bahwa kami hanya memiliki anak-anak yang tidak memiliki akses dan potensi apa-apa kami hanya memiliki kemampuan do’a-do’a.
BIYAYA PENDIDIKAN
Kadangkala kami berfikir, merenung panjang bahwa biaya pendidikan anak-anak, mulai dari SPP, biaya gedung, tak ada keringanan dan SULIT DIBERI KERINGANAN, meskipun kami dengan susah payah memohon, menangis, meminta belas kasihan. Bisa dibayangkan ada anak panti kami yang di kenakan biaya RP.4 juta, ada yang RP 2 juta, yang paling murah RP.200 ribu. Bahkan ada yang berkata: ”anak-anak panti memang miskin, tapi pengurusnya kan kaya?”ya, allah….!! Tentu kebijakan panti ini tidak semua sekolah bertindak demikian, tapi kenyataanya 1 atau 2 sekolah saja yang menolong kami. Kami mengerti, dan sangat mengerti, bahwa keperluan sekolah berserta kesejahteraan guru sangat kurang, apalagi untuk kesejahteraan Guru Sukwan, sangat kecil sekali. ada sekolah SMP swasta yang memberikan humor ke guru sukwanya satu bulan hanya RP.50 ribu. Kami percaya, bahwa dana pendidikan yang besar itu , untuk keperluan sekolah, karena apa yang diberikan oleh pemerintah sangat tidak cukup. BOS, yang didengung-dengungkan tidak semua murid miskin yang berhak dapat, karena ada jatah untuk dana itu. Kenapa beberapa lembaga pendidikan, kami hanya biasa berharap untuk Dana pembangunan/atau istilah lain infaq atau uang gedung dll, bagi anak-anak Panti yang ada di satu sekolah hanya 5 orang.
REKREASI
Suatu pengalaman lagi, ketika hari liut beberapa waktu yang lalu, sekolah-sekolah mengadakan rekreasi, rata-rata anak panti kami tidak ikut. Bagaimanpun mereka juga ingin rekreasi. “pak, ayo rekreasi, kenapa kita tidak pernah rekreasi? “paling kita ke play ground sebelah matos atau ke sena putra, kan murah?” keluh mereka
Ya Allah, berilah kami jalan, untuk dapat merekreasikan anak-anak panti kami itulah doa-doa sehari-hari kami. Akhirnya, kami ingat teman-teman, sahabat-sahabat, dan kenalan kami, kami layangkan surat permohonan bantuan.
Mereka senang tertawa, bergembira, lupa keluarganya dan dirinya. Saya terharu meneteskan air mata, ketiak mengetik artikel ini! Ya Allah Engkau Mahapengasih, penolong kami, juga hamba-hamba Mu yang engkau gerakan membantu kami!.
Dan mudah-mudahan amal mereka diterima olehMu ya Allah